Selasa, 17 November 2015

Filsafat dan Manajemen Bisnis

Filsafat dan Manajemen Bisnis



Peter Ferdinand Drucker
(19 November 1909 – 11 November 2005)
The practice of management
Biography
Peter Drucker lahir di Vienna, pada tahun 1909 dari keluarga kelas menengah yang berkecukupan. Ayahnya, Adolph, adalah seorang pengacara international yang ternama, merupakan salah seorang pencetus festival Salzburg. Drucker lulus dari sarjana pada tahun 1927 di Vienna, dan mendapatkan gelar LLD dari universitas di Frankfurt pada tahun 1931

“Manajemen, telah menjelaskan mengapa, untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, kita dapat mempekerjakan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang besar dalam jumlah banyak untuk melakukan suatu kerja yang produktif.”

Peter Drucker
Pandangan umum mengatakan, bahwa filsafat itu sulit. Filsafat ituabstrak dan bahasanya susah untuk dipahami. Di sisi lain ilmu manajemen adalah ilmu yang praktis. Manajemen memikirkan tentang tindakan dan sibuk dengan penerapan di dalam kehidupan nyata. Kedua bidang itu seolah tidak memiliki kaitan. Manajemen itu praktis. Filsafat itu abstrak. Tidak ada jalan tengah di antara keduanya. Benarkah pandangan seperti itu?

Peter Drucker, seorang ahli bisnis dan professor di bidang manajemen terkemuka di dunia, menolak pandangan itu. Baginya praktek dan ilmu manajemen memiliki dimensi filosofis yang sangat mendalam. Manajemen tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Tanpa filsafat manajemen tidak memiliki fondasi pengetahuan yang kuat. Tanpa manajemen filsafat akan berhenti menjadi pengetahuan dan insight yang belum diterapkan ke dalam praktek. Tata politik mengandaikan filsafat politik dan manajemen politik yang kokoh. Tata bisnis mengandaikan filsafat bisnis-ekonomi dan manajemen bisnis yang juga kokoh. Oleh karena itu kedua displin itu sebenarnya saling bertautan tanpa pernah bisa dipisahkan.

Peter Drucker lahir di Wina pada 1909. Ia sekolah di sana dan di Inggris. Ia meraih gelar doktor dalam bidang hukum publik serta hukum internasional. Ia pernah menjadi wartawan di Frankfurt, Jerman, dan bekerja sebagai ekonom di sebuah bank internasional di London. Pada 1927 Drucker pindah ke Amerika Serikat. Ia banyak menulis buku tentang manajemen, ekonomi, dan masyarakat. Buku-bukunya dibaca oleh banyak orang dan diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Di samping itu Drucker juga telah menulis Autobiografi, dua novel, dan beberapa kumpulan esei. Ia menjadi kolumnis tetap di berbagai majalah dan jurnal internasional.

Latar Belakang

Sebagai suatu disiplin ilmiah, manajemen masih muda usianya. Praktek bisnis yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan dengan menggunakan modal raksasa juga sama. VOC Belanda adalah perusahaan multinasional dengan modal besar yang kiranya pertama kali muncul tercatat di dalam sejarah. Di Eropa pada masa yang sama, perusahaan produsen Katun di Manchester milik Friedrich Engels adalah yang terbesar. Jika anda ingat Engels adalah sahabat dekat Karl Marx. Selamat bertahun-tahun Engels membantu Marx dalam urusan finansial. Mereka bahkan pernah menulis buku bersama. Engels adalah seorang pengusaha katun. Di perusahaannya tidak ada manajer, dalam arti seperti yang kita kenal sekarang ini. (Drucker, 2001, 3) Yang ada adalah mandor, yang sebenarnya juga adalah pekerja. Sang mandor menjaga efektivitas dan displin pekerjanya. Marx menyebut kelompok pekerja saat itu sebagai “kelompok proletar”.

Dapat juga dikatakan bahwa perusahaan katun milik Engels belumlah mengenal manajemen. Yang mereka kenal adalah pembagian kerja, yang sebenarnya hanya merupakan satu aspek kecil dari manajemen. Sekarang ini manajemen sebagai ilmu sudah berkembang begitu pesat. Bahkan menurut Drucker, manajemen adalah salah satu displin ilmu yang berkembang paling pesat dalam sejarah. (Drucker, 2001, 4) Dalam waktu singkat yakni sekitar 150 tahun, manajemen sebagai displin telah memberikan pengaruh yang begitu besar bagi peradaban manusia. Praktek manajemen telah mengubah kegiatan penataan bisnis di negara-negara Barat. “Praktek manajemen”, demikian Drucker, “telah menciptakan ekonomi global dan membuat peraturan-peraturan baru untuk negara-negara yang hendak berpartisipasi di dalam ekonomi sebagai orang-orang yang setara.” (Drucker, 2001) Orang yang tidak memahami manajemen akan mengalami kegagapan menghadapi berbagai perubahan dan tantangan yang muncul di abad ke-21 ini.

Tujuan dasar dari manajemen adalah untuk membuat beragam orang bekerja sama untuk tujuan yang sama, berpijak pada nilai-nilai yang sama, struktur kerja yang sama, pelatihan yang sama, dan perkembangan bersama yang diarahkan untuk menanggapi berbagai perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. (Drucker, 2001, 5) Sampai sekarang tujuan itu masih sama. Namun yang berubah sekarang adalah ukuran dan kualitas dari tata bisnis yang dilakukan. Dulu manajemen hanya berfokus untuk mengatur sekumpulan orang yang tidak memiliki keahlian apapun, dan hanya bekerja untuk tujuan-tujuan jangka pendek saja. Sekarang dan akan terus berkembang di masa depan, manajemen digunakan untuk mengatur orang-orang yang memiliki pendidikan dan keahlian yang tinggi. Mereka mengabdi tidak hanya untuk memenuhi tujuan-tujuan jangka pendek, tetapi untuk masa depan kebudayaan manusia dan memiliki pengaruh yang sangat luas ke seluruh dunia. (Drucker, 2001)

Para pemimpin dunia dan pemikir di bidang akademik mulai menyadari pentingnya praktek dan analisis manajemen sejak awal perang dunia pertama. Namun jumlah mereka masihlah sangat sedikit. Menurut Drucker sekarang ini sepertiga dari penduduk dunia adalah mereka yang juga dikenal sebagai “para manajer yang profesional” di bidangnya masing-masing. (Drucker, 2001, 5) Dalam arti ini para manajer profesional tersebut juga menjadi agen perubahan yang signifikan, baik dalam segi kualitas maupun kuantitas. “Manajemen”, demikian tulis Drucker, “telah menjelaskan mengapa, untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, kita dapat mempekerjakan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang besar dalam jumlah banyak untuk melakukan suatu kerja yang produktif.” (Drucker, 2001) Memang tidak ada masyarakat sebelumnya yang bisa melakukan hal ini. Tidak hanya dulu pada awal abad kedua puluh, belum ada orang yang sungguh-sungguh mengerti, bagaimana mengatur orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang berbeda-beda untuk mewujudkan tujuan bersama.

Drucker lebih jauh menulis, bahwa Cina telah maju lebih dahulu dalam hal manajemen, jika dibandingkan dengan peradaban Barat. Kekaisaran Cina kuno mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi semua orang, baik yang berpendidikan ataupun tidak. Pada waktu itu tidak ada satupun negara Eropa yang mampu melakukan hal yang sama. Sekarang ini menurut Drucker, Amerika Serikat memiliki jumlah penduduk yang sama dengan Kekaisaran Cina Kuno dulu. Sekitar 1 juta mahasiswa lulus dari perguruan tinggi setiap tahunnya. Hanya sedikit diantara mereka yang mampu menemukan pekerjaan yang tepat dengan pendapatan yang juga tepat. (Drucker, 2001, 5)

Sekarang ini pengetahuan seorang ahli adalah pengetahuan yang sangat terspesialisasi. Seorang bisa sangat memahami struktur tulang binatang tertentu, tetapi bisa buta sama sekali terhadap bidang lainnya. Jika bekerja sendirian seorang ahli tidak akan menghasilkan apapun. Dalam hal ini praktek manajemen memungkinkan beberapa ahli yang memiliki pengetahuan berbeda untuk mencapai tujuan yang sama secara produktif. Praktek bisnis modern mempekerjakan sepuluh ribu orang yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang beragam, serta mengarahkannya untuk mewujudkan suatu tujuan secara produktif. Mereka adalah para ahli yang berasal dari sekitar 60 displin ilmu yang berbeda, seperti para insinyur dengan bidang-bidangnya masing-masing, desainer, ahli marketing, ahli ekonomi, akuntan, ahli sumber daya manusia, dan sebagainya. Tanpa praktek manajemen yang tepat, kecil kemungkinan para ahli tersebut mampu menghasilkan sesuatu yang signifikan bagi kehidupan bersama. Dengan demikian praktek manajemen, yang didasarkan pada teori yang tepat, dapat membuat beragam pengetahuan yang berbeda, yang dimiliki juga oleh orang yang berbeda, menjadi efektif dan produktif. “Berkembangnya praktek manajemen”, demikian Drucker, “telah mengubah pengetahuan dari hanya ornamen sosial menjadi modal utama untuk ekonomi.” (Drucker, 2001)

Menurut Adam Smith setiap masyarakat membutuhkan waktu setidaknya seratus tahun untuk menciptakan tradisi tumbuhnya pekerja ahli pada level teknis dan manajerial, dan terciptanya masyarakat yang siap menjadi konsumen dari produk-produk mereka. Akan tetapi realitasnya berbicaraberbeda. Pada waktu perang dunia pertama meletus, banyak sekali pekerja yang tidak memiliki keahlian apapun ‘dipaksa’ untuk menjadi pekerja profesional di pabrik-pabrik nyaris dalam waktu sekejap mata. Banyak perusahaan di Eropa menerapkan suatu paradigma ekonomi baru, yakni mempekerjakan banyak orang dalam skala pekerjaan yang juga masif. Para manajer pabrik besar melakukan analisis atas tipe-tipe pekerjaan yang mungkin, dan membaginya ke dalam bagian-bagian kecil, sehingga teknik yang dibutuhkan untuk memenuhi bagian kecil itu bisa dipelajari dalam waktu singkat.

Misalnya sebuah pabrik ingin memproduksi mobil. Tidak perlu ada sekelompok orang yang membuat mobil. Mobil dibagi ke dalam bagian-bagian, seperti roda, kaca, badan mobil, dan sebagainya. Roda pun dibagi lagi ke dalam bagian kecil-kecil, seperti karetnya, mur, ataupun bagian cat. Bagian kecil-kecil tersebut dipegang oleh beberapa orang. Mereka bisa mempelajari teknik membuat bagian yang kecil-kecil tersebut dalam waktu singkat. Cara berpikir dan praktek manajemen semacam ini juga dipraktekkan oleh Jepang beberapa waktu setelah perang dunia pertama. Dua puluh tahun setelah perang dunia kedua berakhir, Korea Selatan menerapkan cara yang sama. Akibatnya mereka memperoleh kemajuan industri dalam waktu singkat, dan bisa merebut pasar di negara-negara lain.

Pada dekade 1930-an beberapa ahli manajemen dari Harvard Business School, seperti Thomas Watson, Robert E. Wood, Roebuck, an George Mayo, mulai mempertanyakan kembali mekanisme produksi dan manajemen yang tengah berlangsung. Mereka pun berpendapat bahwa cara berpikir dan praktek manajemen yang lama tersebut sudah tidak lagi memadai. Walaupun produktif tetapi manajemen semacam itu tidak fleksibel, menguras banyak modal, tidak memanfaatkan aspek sumber daya manusia secara maksimal, dan memiliki pengaturan yang tidak tepat. Oleh karena itu dibutuhkan suatu cara manajemen baru. Para ahli tersebut berpaling para sistem manajemen berbasis pengetahuan (knowledge based management). “Setiap orang di dalam sistem inovatif ini”, demikian Drucker, “akan menerapkan pengetahuan ke dalam pekerjaan, sistem dan informasi akan menggantikan kerja tangan dan kerja alat.” (Drucker, 2001, 7) Dalam arti ini mereka menggantikan semboyan “kerja keras” menjadi “kerja cerdas”. (Drucker, 2001)

Jadi kita sudah melihat lahirnya sebuah displin ilmiah dan praktek baru, yakni praktek manajemen. Suatu teknik yang sebenarnya sudah lama berkembang di dalam peradaban manusia, tetapi baru sungguh menjadi bagian dari pengetahuan pada awal abad kedua puluh ini. Manajemen telah berubah paradigma, mulai dari manajemen berbasis bagian-bagian kecil dengan skala masif menjadi manajemen yang berbasis pada pengetahuan dalam bentuk informasi dan komunikasi yang sistematis. Pertanyaan tetaplah sama apa sebenarnya yang dimaksudkan sebagai manajemen ini? Apakah manajemen itu melulu terkait dengan teknik dan tips-tips praktis untuk mengatur orang? Atau ada yang lain? Apa dimensi filosofis dari manajemen?

Dimensi Filosofis Manajemen

Menurut Drucker manajemen memang meliputi suatu area disiplin ilmiah dan praktek yang luas. Akan tetapi cara berpikir dan praktek manajemen memiliki beberapa prinsip esensial yang bersifat filosofis. (Drucker, 2001, 10) Pertama, manajemen adalah soal manusia. Fungsi utama manajemen adalah memungkinkan terjadinya kerja sama, yakni untuk membuat kekuatan orang-orang yang berbeda menjadi relevan, dan kelemahan mereka menjadi tidak relevan. Ini adalah alasan dari keberadaan organisasi, apapun bentuknya. Dalam hal ini praktek manajemen sangatlah penting. Misalnya ada orang yang memiliki kemampuan arsitektur yang hebat. Akan tetapi ia tidak mampu melakukan penghitungan uang secara cermat. Ia lemah dalam soal keuangan. Di dalam organisasi kelebihan orang itu, yakni dalam hal menciptakan bagan arsitektur yang akurat, dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendatangkan keuntungan. Sementara kelemahannya yakni ketidakmampuannya menghitung uang secara cermat, bisa menjadi tidak relevan, karena organisasi tersebut telah mempekerjakan orang yang bisa menghitung uang secara cermat. Dalam hal ini kelemahan si arsitek menjadi tidak relevan. Sementara kelebihannya menjadi sangat berguna.

Dewasa ini semua orang praktis bekerja dalam suatu organisasi yang memiliki pola manajemen tertentu, baik itu besar maupun kecil. “Kemampuan kita untuk berkontribusi di dalam masyarakat”, demikian Drucker, “juga sangat tergantung dari sejauh mana kemampuan, dedikasi, dan usaha kita dipergunakan oleh organisasi tempat kita bekerja.” (Drucker, 2001, 11) Seorang ahli biokimia tidak akan bekerja secara maksimal, jika ia bekerja sebagai penjual roti. Ia akan bekerja secara maksimal pada tempat, di mana kemampuannya sungguh dihargai dan dapat digunakan sebaik mungkin, seperti di perusahaan obat, atau di universitas misalnya. Di perusahaan obat atau universitas, si ahli biokimia bisa memberikan kontribusi yang signifikan bagi masyarakat sesuai dengan potensi yang ia miliki.

Kedua, karena manajemen terkait dengan integrasi dari beragam orang untuk mencapai tujuan yang sama, maka praktek tersebut berakar kuat di dalam kultur. Praktek manajemen di manapun tempat dilakukannya, pada hakekatnya, adalah sama. Akan tetapi pola penerapannyalah yang berbeda. Menurut Drucker salah satu tantangan terbesar bagi para praktisi manajemen sekarang ini adalah menemukan pola manajerial yang cocok dengan kultur tempat mereka hidup dan berkembang. Pola itulah yang bisa dijadikan tititk tolak untuk melakukan praktek manajemen secara tepat. (Drucker, 2001) Salah satu kunci sukses Jepang meraih kemajuan pesat di bidang manajerial adalah kemampuan mereka menemukan pola praktek manajemen yang sesuai dengan kultur yang mereka miliki. Pola manajemen berbasis kultur inilah yang mendorong mereka mengembangkan berbagai bidang kehidupan, baik ekonomi, politiks, sosial, dan budaya.

Ketiga, setiap organisasi apapun bentuknya selalu membutuhkan komitmen tertentu pada tujuan bersama (common goal), dan diikat oleh nilai-nilai bersama (common values). “Sebuah perusahaan”, demikian Drucker, “haruslah memiliki tujuan yang jelas, sederhana, dan menyatukan.” (Drucker, 2001, 12) Tanpa komitmen kepada tujuan tersebut, tidak ada organisasi. Yang ada adalah gerombolan (mob). Tujuan bersama tersebut juga haruslah jelas, bersifat publik, dan secara konsistendiingatkan serta dipastikan kembali. Tugas utama seorang manajer adalah untuk memikirkan secara mendalam, merumuskan, dan mewujudkan tujuan serta nilai-nilai bersama tersebut.

Keempat, Drucker lebih jauh menjelaskan bahwa praktisi manajemen haruslah mampu membawa organisasi untuk berkembang dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Ia harus mampu membaca situasi, dan memanfaatkan semua peluang yang mungkin diraih. Dalam arti ini setiap organisasi adalah sebuah tempat, di mana aktivitas belajar dan mengajar terjadi. Pelatihan dan pengembangan haruslah dilakukan terus menerus di semua jenjang organisasi. (Drucker, 2001)

Kelima, setiap organisasi selalu terdiri dari beragam orang dengan beragam pengetahuan dan ketrampilan. Mereka melakukan pekerjaan yang berbeda-beda, sesuai dengan kemampuannya. Semua aktivitas tersebut haruslah dilakukan atas dasar komunikasi dan tanggung jawab individu yang kokoh. Dalam hal ini semua anggota organisasi haruslah sungguh memahami tujuan dari aktivitas yang mereka lakukan. Tujuan tersebut haruslah diresapi tidak hanya oleh pimpinan organisasi, tetapi oleh seluruh anggotanya. Setiap anggota harus memahami dan meresapi tujuan organisasi ini. Setiap anggota juga harus memikirkan apa kaitan aktivitas mereka dengan aktivitas anggota lainnya, dan memastikan bahwa anggota lain juga melakukan hal yang sama, yakni mempertimbangkan kepentingan anggota lainnya. Dengan demikian ontologi dari praktek manajemen adalah komunikasi dan tanggung jawab individual yang saling terkait satu sama lain tanpa bisa terlepaskan. (Drucker, 2001, 12)

Keenam, bagaimana menilai kemajuan suatu organisasi? Kriteria apa yang dapat kita gunakan untuk melakukan itu? Memang produktivitas, luasnya pasar, status finansial, dan pengembangan sumber daya manusia sangatlah penting bagi keberlangsungan suatu organisasi. Akan tetapi menurut Drucker, sama seperti penilaian atas kesehatan dan perkembangan manusia tidak bisa hanya dibuat dengan satu kriteria, begitu pula penilaian atas kinerja organisasi tidak bisa dibuat hanya dengan satu kriteria. Kriteria yang ada haruslah beragam dan terus berkembang sesuai dengan perubahan situasi. (Drucker, 2001)

Dan ketujuh, daya guna dan hasil suatu organisasi terletak di luar organisasi itu sendiri. “Hasil dari praktek bisnis”, demikian Drucker, “adalah konsumen yang puas.” (Drucker, 2001, 12) Misalnya daya guna dari rumah sakit adalah pasien yang telah sembuh. Daya guna dari sekolah adalah murid yang telah mempelajari sesuatu, dan menggunakannya untuk bekerja sepuluh tahun kemudian. Itu semua adalah hasil dan daya guna dari suatu organisasi. Semua itu bisa ditemukan di luar organisasi. Di dalam organisasi yang ada hanyalah biaya dan pengeluaran. Inilah prinsip dasar dan alasan keberadaan dari sebuah manajemen organisasi.

Manajemen yang Filosofis

Praktek manajemen berurusan dengan tindakan dan aplikasi. Ujian terhadap berhasil tidaknya praktek manajemen adalah hasilnya. Akan tetapi hasil itu tidak melulu terkait dengan uang (economic performance), tetapi juga dengan manusia, nilai-nilainya, dan perkembangannya. Inilah yang membuat manajemen terkait erat dengan kemanusiaan. Bahkan bisa juga dibilang, dimensi filosofis terdalam dari manajemen adalah sisi kemanusiaannya. Manajemen terkait erat juga dengan struktur sosial dari komunitas, di mana praktek manajemen tersebut dilaksanakan. Berbicara melalui pengalaman bertahun-tahun bekerja sama dengan para praktisi manajemen, Drucker berpendapat, bahwa manajemen sangatlah terkait dengan moralitas. Moralitas yang juga selalu terkait dengan hakekat dari manusia itu sendiri, sisi baik maupun sisi buruknya. (Drucker, 2001, 13)

Drucker bahkan menyebut manajemen sebagai bagian dari liberal art, atau seni liberal. Disebut liberal karena manajemen terkait dengan pengetahuan,baik tentang diri maupun tentang dunia, kebijaksanaan, dan kepemimpinan. Disebut sebagai seni karena manajemen terkait erat dengan tindakan dan penerapan praktis.

“Setiap manajer”, demikian tulis Drucker, “mengambil semua pengetahuan dan inspirasi dari ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi, filsafat, ekonomi, sejarah, dan etika, dan juga dari ilmu-ilmu alam. Akan tetapi, para manajer membuat semua pengetahuan ini menjadi fokus dan menghasilkan hasil yang efektif, seperti menyembuhkan orang sakit, mengajar siswa, membangun jembatan,…” (Drucker, 2001)

Dengan alasan-alasan yang telah dikemukanan di atas, manajemen adalah suatu praktek yang berfokus pada kemanusiaan. Tujuan utama manajemen adalah supaya kemanusiaan diakui dan dijadikan prinsip utama. Tanpa aspek kemanusiaan manajemen hanyalah alat untuk membenarkan penindasan, atau selubung yang menutupi ketidakadilan.

Perumusan Lebih Jauh

Pada titik ini saya rasa kita bisa mulai merumuskan dimensi-dimensi filosofis dari praktek manajemen, seperti pengandaian antropologis, sosiologis, ontologis, epistemologis, dan aksiologisnya. Pengandaian antropologis adalah paham tentang manusia yang menjadi dasar dari praktek manajemen. Pengandaian ini terkait dengan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, yakni siapa itu manusia dalam praktek manajemen? Dalam praktek manajemen manusia dipahami sebagaimanusia yang memiliki beragam ketrampilan bergabung bersama untuk mewujudkan suatu tujuan. Seperti sudah disinggung sebelumnya, manajemen memungkinan berbagai orang dengan beragam ketrampilan dan ilmu bergabung bersama untuk mewujudkan suatu tujuan tertentu secara efektif. Seorang ahli nuklir tidak akan bermakna bagi kehidupan bersama, jika ia hanya sendiri. Ia baru sungguh bermakna, jika ia tergabung dalam suatu tim yang terdiri dari beragam orang dan beragam ketrampilan untuk mewujudkan suatu tujuan tertentu, yang terkait dengan energi nuklir. Mereka bisa secara bersama membangun pembangkit listrik, atau apapun.

Di sisi lain Pengandaian sosiologis adalah situasi, kondisi, atau tipe masyarakat yang memungkinkan praktek manajemen berlangsung. Tanpa pengandaian sosiologis yang tepat, praktek manajemen juga tidak akan bermakna. Pengandaian sosiologis dari praktek manajemen terkait dengan fakta, bahwa praktek tersebut selalu berakar kuat pada kultur. Warna manajemen sebuah organisasi biasanya mencerminkan kultur tertentu yang melatarbelakanginya. Dalam arti ini maka praktek manajemen haruslah berangkat dan berkembang di dalam kultur sosiologis suatu masyarakat. Jika tidak begitu praktek manajemen akan terasa asing, dan justru membuat orang terasing dari kultur yang membuat hidupnya bermakna.

Pola manajemen di Eropa Barat dan di Cina berbeda, karena keduanya berangkat dari kultur yang juga berbeda. Jika kita mengatur sebuah organisasi yang berasal dari Cina dengan tata kelola gaya Eropa Barat, maka pengaturan tersebut tidak akan bermakna. Orang-orang Cina yang kita pimpin bisa menanggapi itu sebagai suatu penindasan. Tata kelola atau praktek manajemen tidak akan berjalan. Dengan demikian pengandaian sosiologis dari pratek manajemen adalah kultur, di mana praktek tersebut lahir dan berkembang.

Pengandaian ontologis dari praktek manajemen adalah hakekat dari praktek manajemen. Hakekat itu merupakan “ada”-nya dari manajemen. Inilah esensi dari praktek manajemen. Tanpa hakekat ini praktek manajemen menjadi tidak bermakna. Ontologi dari manajemen adalahjaringan komunikasi intensif antar individu yang memiliki perbedaan keterampilan dan ilmu, namun bekerja untuk mewujudkan tujuan yang sama.Jadi ontologi dari praktek manajemen adalah jaringan komunikasi yang saling bertautan satu sama lain. Jaringan komunikasi itu tidak anonim, melainkan tertata dan mengarah pada tujuan yang jelas. Jaringan komunikasi itu juga mengandaikan adanya tanggung jawab masing-masing individu untuk berkomitmen pada tugas dan tujuan yang ada. Seperti yang juga diingatkan oleh Drucker, tujuan bersama tersebut haruslah terus diingatkan dan dipastikan kembali. Tujuan itu haruslah menjadi bagian dari identitas dan cita-cita bersama. Tanpa itu organisasi tidak lebih dari sebuah gerombolan.

Bagaimana pengandaian ontologis tersebut dapat diketahui? Jawaban atas pertanyaan ini membawa kita pada pengandaian epistemologis dari praktek manajemen. Fakta bahwa manajemen merupakan suatu jaringan komunikasi terarah pada tujuan tertentu dapatlah langsung diuji secara empiris maupun analitis. Keluarga, dalam arti keluarga inti ataupun klan, merupakan bentuk organisasi tertua. Bentuk itu berkembang menjadi masyarakat, kota, negara, dan kini berkembang menjadi perusahaan-perusahaan bisnis. Penelitian empiris atas berbagai tipe masyarakat menunjukkan pola yang kurang lebih serupa, walaupun memang karaktek hakikinya berbeda-beda. Dengan demikian ontologi manajemen, yakni sebagai jaringan komunikasi intensif antar individu yang memiliki beragam ketrampilan berbeda namun mengabdi pada tujuan yang sama, dapatlah diuji secara inderawi melalui pengalaman langsung. Epistemologi dari praktek manajemen adalah pengalaman empiris dan historisitas manusia.

Konsep manajemen sebagai jaringan komunikasi intensif antar beragam individu tersebut juga bisa diuji secara analitis. Konsep jaringan komunikasi sudah ada di dalam konsep manajemen. Manajemen adalah komunikasi, sekaligus lebih dari itu, yakni komunikasi intensif untuk mewujukan suatu tujuan tertentu secara efektif. Definisi ini tidak perlu melulu diuji melalui pengalaman, tetapi dapat dipahami secara analitis dengan akal budi. Seperti pengetahuan bahwa anak dari paman saya adalah sepupu saya, begitu pula konsep manajemen dapat dipahami secara analitis sebagai jaringan komunikasi intensif antar beragam inividu yang mengabdi pada tujuan bersama. Pengetahuan ini bisa diuji secara empiris, historis, maupun analitis.

Aksiologi adalah cabang dari filsafat yang mempelajari tentang hakekat nilai. Aksiologi mau memahami arti nilai secara umum, dan bukan hanya nilai moral saja. Aksiologi mau mengakui fakta, bahwa banyak nilai yang berkembang di dalam masyarakat, dan nilai tersebut saling berbeda dan bahkan bertentangan satu sama lain. Di dalam praktek manajemen, pada hemat saya, ada lima nilai yang kiranya menjadi titik tolak, yakni nilaipengabdian, kemanusiaan, ekonomi, lingkungan hidup, dan estetika. Seperti sudah disinggung sebelumnya, tujuan utama dari sebuah organisasi terletak di luar organisasi tersebut. Dan itu adalah sebentuk pengabdian pada masyarakat yang lebih luas. Di dalam organisasi yang ada adalah pengeluaran. Sementara di hadapan masyarakat luas, organisasi bisa memberikan sumbangan yang besar.

Organisasi juga berhadapan dengan manusia yang memiliki daging, darah, dan historisitas masing-masing. Dan mereka itu bukan hanya pekerja, tetapi juga manusia yang memiliki harkat dan martabat. Dalam hal iniprinsip kemanusiaan menjadi pemandu semua kegiatan berorganisasi. Manusia haruslah dipandang sebagai tujuan pada dirinya sendiri, dan bukan alat untuk tujuan-tujuan lainnya. Setiap pimpinan suatu organisasi, apapun bentuknya, haruslah mampu melawan cara berpikir rasionalitas instrumental strategis yang banyak terjadi sekarang ini. Inilah cara berpikir yang mau menjadikan manusia sebagai alat untuk tujuan-tujuan lain di luar manusia itu sendiri.

Tentu saja organisasi tentu butuh uang untuk mempertahankan eksistensinya. Dalam hal ini nilai ekonomis juga sangat perlu untuk menjadi perhatian. Praktek organisasi bisnis yang tidak menjadikan nilai ekonomi sebagai tolok ukur adalah praktek yang absurd. Bahkan meminjam metafor yang digunakan oleh Drucker, jika seorang malaikat agung yang tidak memiliki kepentingan pribadi memimpin sebuah perusahaan, maka sama seperti para pelaku bisnis lainnya, ia harus menjadikan nilai ekonomi sebagai salah satu tolok ukur kerjanya. Jika tidak organisasinya bisa hancur. Runtuhnya suatu organisasi berarti hilangnya salah satu peran sosial yang bisa memberikan kontribusi besar bagi kehidupan masyarakat.

Sekarang ini lingkungan ekosistem manusia sedang terancam musnah. Banyak binatang yang sudah punah. Hutan dibabati. Cuaca semakin panas karena lapisan atmosfer yang melindungi manusia dari radiasi matahari sudah berkurang. Efek rumah kaca pun menambah parah keadaan. Dalam hal ini jelaslah, bahwa praktek manajemen organisasi harus memberikan perhatian pada kelangsungan ekosistem. Nilai pelestarian ekosistem haruslah menjadi salah satu pertimbangan utama di dalam praktek-praktek organisasi. Jika nilai ini tidak diperhatikan, maka ekosistem akan terancam musnah. Jika ekosistem rusak yang musnah tidak hanya organisasi-organisasi terkait, tetapi juga masyarakat sebagai keseluruhan.

Nilai terakhir dari praktek manajemen yang menjadi pengandaian aksiologisnya adalah nilai estetika. Seperti ditulis oleh Drucker, manajemen adalah suatu seni. Oleh karena itu manajemen haruslah memperhatikanaspek estetik dari semua kegiatannya, mulai dari produksi, distribusi, marketing, sampai pengelolaan sumber daya manusia. Itu semua adalah praktek-pratek yang memerlukan kepekaan seni yang bersifat intuitif, dan bukan hanya kalkulasi strategis rasional. Jika praktek manajemen di dalam organisasi mengabaikan aspek estetik, maka organisasi itu tidak lebih dari sekedar organisasi para robot. Robot tidak memiliki kepekaaan intuitif dan estetik. Oleh karena itu robot tidak bisa kreatif dan menciptakan inovasi. Perlahan tapi pasti organisasi itu akan hancur.

Dari uraian ini kita dapat menyimpulkan bahwa praktek manajemen sangatlah terkait dengan filsafat. Tanpa filsafat praktek manajemen adalah praktek para robot yang pucat, miskin inovasi, dan miskin kreatifitas. Mungkin yang banyak terjadi sekarang ini, para pimpinan organisasi kita, apapun bentuknya, mulai menjadi pimpinan para robot-robot. Mereka merasa diri mereka sebagai robot, memandang anak buahnya sebagai robot, dan bekerja juga secara mekanis seperti robot. Jika praktek seperti itu terus dilakukan, maka mereka akan ketinggalan jaman. Mereka kehilangan kemampuan kompetitif. Sudah saatnya para filsuf menengok ke dunia bisnis dan manajemen. Kita perlu lebih banyak “Peter Drucker-Peter Drucker” lainnya, tentu saja yang sungguh memahami kondisi Indonesia.



Pada saat Nazi berkuasa di Jerman pada sekitar tahun 1933, Drucker di tawari untuk bekerja di Kementrian Informasi sebagai jurnalis dan dosen. Drucker adalah seseorang yang berpandangan politik konservatif, katolik, seorang yang mendukung ide pemerintahan yang konstitusional dan berlandaskan hukum. Oleh karena itu dia kurang bersimpati kepada rezim Nazi dan menjawab tawaran tersebut dengan menuliskan sebuah monograph – Friedrich Julius Stahl, Conservative Poitical Theory and Historical Change- sebuah tulisan yang merupakan kritik terselubung dan oleh penguasa pada saat itu dianggap tidak dapat dibenarkan dan selayaknya dilarang.

Merasa terancam keselamatannya, walaupun Drucker berpassport Austria, dia meninggalkan Jerman menuju London pada Apri 1933 dan bekerja pada sebuah bank sekaligus aktif menulis artikel untuk beberapa koran di Inggris. Diapun memulai studinya tentang kebangkitan Nazi dan yang pada akhirnya melahirkan buku pertamanya yang dipublikasikan di Inggris yaitu The End of Economic Man: The Origins of Totalitarianism. Pada tahun 1937 dia meninggalkan Inggris menuju Amerika dan memantapkan dirinya sebagai seorang konsultan dan dosen di Sarah Lawrence College, Bronxville, New York dan kemudian juga di Bennington College in Vermont untuk mata kuliah filsafat, pemerintahan dan agama. Pada saat dia mengajar di Bennington pada tahun 1942 (sampai dengan tahun 1950) dia mempublikasikan The Future of Industrial Man, dan kemudian dinobatkan menjadi guru besar dibidang manajemen di New York University. Pada tahun 1971 Drucker menjadi Clarke Professor of Social Science and Management di Claremont Graduate School in Claremont, California. Di tahun 1994 Drucker menjadi Godkin Lecturer di Harvard University.

Dalam publikasinya The Future of Industrial Man, Drucker memprediksikan bahwa Hitler akan kalah. Dia juga berspekulasi tentang situasi setelah perang dunia bahwa perusahaan dagang (business enterprise) akan menjadi institusi yang berperan penting dalam dunia industri, yang mana prinsip dan fungsi kekuasan dan status individu harus diwujudkan. Hal ini menarik perhatian dari Paul Garrett, Vice Chairman dari General Motors dan mengundang Drucker untuk melakukan sebuah studi mengenai kebijakan dan sturktur perusahaan di GM. Tentu saja penawaran ini merupakan kesempatan yang berharga bagi Drucker untuk dapat mempelajari sebuah perusahaan yang besar dari dalam dan merupakan poin tersendiri bagi karirnya sebagai seorang konsultan manajemen.

Salah satu hasil studinya yang utama di GM adalah The Concept of the Corporation. Dalam buku tersebut Drucker mengidentifikasikan kesuksesan sebuah korporasi dengan beberapa karakter manajerial tertentu, pendelegasian dan penetapan tujuan perusahaan yang jelas dan karakterkarakter structural tertentu seperti desentralisasi. Dalam bukunya Drucker juga menganalisa pentingnya marketing (dimana pada saat itu marketing adalah sebuah fungsi yang dihiraukan oeh semua kalangan) dan keseimbangan yang “lembut” antara strategi jangka panjang dan kinerja jangka pendek. Drucker merupakan seorang penulis yang produktif , beberapa tulisan besarnya adalah The Age of Discontinuity (1969), Management: Task, Responsibilities, Practices (1974), Managing in Turbulent Times (1980) and Post-Capitalist Society (1993). Mahakarya Drucker, The Practice of Management, berisikan ide-idenya yang sangat berpengaruh tentang management by objectives and self-control.

The practice of management

Buku ini di publikasikan pada tahun 1954. Dalam buku tersebut, Drucker memutuskan untuk menghindari pakem akademik yang lazim digunakan, misalnya penyebutan seseorang atau pencantuman referensi, tetapi ada seorang ekonom yang menurutnya sangat berjasa yaitu Joseph Schumpeter. Kembali pada tahun 1983, pada saat perayaan seratus tahun kelahiran Joseph Schumpeter, Drucker mengungkapkan bahwa pemikiranpemikiran Schumpeter akan terus berguna sampai dengan beberapa puluh tahun kedepan. Kontribusi besar Schumpeter pada ekonomi adalah teorinya tentang Business Cycles (1939). Sama seperti Drucker, Schumpeter adalah seorang berkebangsaan Austria yang mengadu nasib ke Amerika pada tahun 1932 dan menjadi staf pengajar yang berpengaruh di Harvard University. Bukunya yang terkenal adalah Capitalism, Socialism and Democracy (1942). Drucker melihat bahwa masyarakat dan bisnis mempunyai siklus yang sama yaitu penciptaan (creation), pertumbuhan (growth), stagnasi (stagnation) dan penurunan (decline). Salah satu inovasi adalah menghindari fase stagnasi dan penurunan. Untuk bisa menghindarinya dibutuhkan kemampuan untuk menampilkan terobosan inovatif misalnya menemukan sebuah produk baru atau yang lebih baik, menciptakan pelanggan baru atau penggunaan baru dari sebuah barang lama, dan membuat, menentukan harga dan pendistribusian produk atau jasa dengan cara yang lebih kompetitif.  Dalam bibliografi buku yang sama, Drucker memasukan karya Chester Barnard, Henri Fayol, Mary Parker Follett, F.W. Taylor, Lyndall Urwick dan Elton Mayo.

Menurut Mayo berdasarkan eksperimen Hawthorne, para manajer industri yang akan datang akan memilki peran yang penting dalam mempertahankan keseimbangan sosial. Lebih lanjut James Burnham (NYU) dalam bukunya The Managerial Revolution (1941/1962) memprediksikan bahwa para manager akan menjadi elit yang mengatur dalam masyarakat modern. Atas kedua pandangan tersebut, Drucker mencoba untuk memperluas dan menyempurnakan tentang peranan para manajer dan manajemen dalam masyarakat. Manajer adalah element yang sentral (dynamic, life giving) dalam setiap bisnis. Tanpa kepemimpinannya, sumber daya produksi yang ada akan tetap hanya menjadi sumber daya tidak akan pernah menjadi sebuah proses produksi. Dalam kondisi ekonomi yang sangat kompetitif, kualitas dan kinerja para manajer menentukan kesuksesan sebuah bisnis dan pastinya menentukan keberlangsungan hidup dari bisnis tersebut. Kualitas dan kinerja dari para manajer adalah satu-satunya keunggulan yang bisa diharapkan dalam kondisi ekonomi seperti itu. Manajemen juga merupakan sebuah kelompok yang penting dalam masyarakat industri. Kemunculan manajemen sebagai institusi yang vital juga merupakan sebuah even yang penting dalam sejarah sosial. Jarang sekali atau bahkan tidak pernah ada sebuah institusi dasar baru (new basic institution) yang tumbuh secepat itu (manajemen) dalam sejarah umat manusia. Manajemen datang, tumbuh dan mendapatkan dukungan absolute (sedikit yang menentang, sedikit yang mengganggu, tidak ada kontroversi) dari semua kalangan. Institusi ini diprediksi akan terus ada sampai selama kebudayaan barat ada. Manajemen tidak hanya menjadi dasar dari sistem industri moderen dan kebutuhan dari perusahaan bisnis modern, tapi juga mengekspresikan kepercayaan dasar dari masyarakat barat moderen. Yaitu sebuah kepercayaan bahwa kehidupan umat manusia dapat dikontrol melalui sebuah pengorganisasian yang sistematik dari sumber daya - sumber daya ekonomi. Sebuah kepercayaan bahwa perubahan ekonomi dapat dibuat menjadi sebuah mesin yang sangat tangguh untuk perbaikan umat manusia dan keadilan sosial.

Drucker menekankan bahwa untuk menuju kesuksesan, manajer harus dapat menentukan tujuan dengan baik dan memonitor hasilnya dengan akurat. Ada delapan area penting yang dapat dijadikan dasar yaitu:
  1. Kedudukan / posisi di pasar (Market Standing)
  2. Inovasi (Innovation)
  3. Produktivitas (Productivity)
  4. Sumber daya fisik dan finansial (Physical and Financia resources)
  5. Kemampuan untuk menghasilkan (Profitability)6
  6. Kinerja dan perkembangan manajer (Manager performance and develoment)
  7. Kinerja dan sikap pekerja (Worker performance and attitude)
  8. Tanggung Jawab publik / sosial (Public or Social Responsibility)


Semua pekerjaan harus diarahkkan menuju tujuan perusahaan, para manajer harus fokus untuk mensukseskan tujuan perusahaan. Jika tidak terpenuhi  berarti mereka salah arah, telah menyia-yiakan tenaga. Bukan sebuah teamwork yang dihasilkan tetapi malahan gesekan-gesekan, rasa frustasi dan konflik. Drucker menggunakan istilah Management by Objectives sebagai resep untuk merealisasikan ideanya tersebut.

Management by objectives and self-control

Menurut Morgan istilah Management by Objectives sudah ada sejak jaman Fayol yaitu penekanan pada 5 elemen penting, Planning, Organization, Command, Coordination and Control. Dan memang Drucker mengakui bahwa istilah tersebut bukan ditemukan olehnya. Dia mengatakan bahwa Alfred Sloan sudah menggunakan istilah tersebut pada tahun 1950an, hanya saja Drucker memposisikan MBO dalam posisi sentral sedangkan menurut Sloan MBO hanya merupakan efek samping. Menurut Drucker, seringkali di perusahaan besar yang dilandasi oleh birokrasi terjadi kecenderungan bergesernya managerial goal. Dalam perusahaan bisnis, para manajer tidak secara otomatis diarahkan pada tujuan dari perusahaan. Secara alamiah, bisnis mengandung tiga faktor yang sangat kuat untuk terjadinya ”salah arah”: in the specialized work of most managers, in the hierarchical structure of management, and in the differences in vision and work and the resultant insulation of various levels of management. MBO dimunculkan untuk menciptakan proses terciptanya identifikasi tujuan bersama-sama (mutually) antara atasan dan bawahan dalam sebuah organisasi; untuk dapat mengidentifikasi tanggung-jawab para manajer yang bersangkutan dalam kaitannya dengan hasil yang akan dicapainya; sebagai acuan dalam operasional setiap departemen atau unit dan untuk mengukur kontribusi setiap subordinate. Menurut Tarrant MBO mengarahkan fokus sebuah organisasi ke tujuan yang ingin dicapai, ke tujuan suatu aktivitas daripada hanya sekedar proses aktivitas itu sendiri. Jadi bukan menanyakan apa yang sedang saya kerjakan tetapi apa yang ingin saya capai dengan melakukan ini. Yang penting bukan seberapa mengerti seorang teknisi akan sebuah mesin, atau berapa kali dilakukan meeting atau seberapa sering menghubungi pelanggan, tetapi lebih kepada sampai seberapa besar aktivitas-aktivitasnya berkontribusi pada tujuan utama perusahaan. Walaupun dalam bukunya, Drucker hanya menjelaskan garis besar dari MBO, tetapi ide ini merupakan salah satu teknik manajemen yang paling mendominasi pada abad 20. Hal ini dijelaskan oleh Pinder bahwa MBO merupakan salah satu teknik manajerial untuk memotivasi dan memberikan penghargaan kepada karyawan, yang paling banyak diadopsi oleh perusahaan di barat sejak akhir tahun 50an. MBO sangat populer dan banyak di adopsi oleh bisnis modern dan organisasi pemerintahan. Tidak ditemukan definisi tentang MBO, tetapi McConkie mencoba untuk mendefinisikannya sebagai berikut: MBO adalah sebuah proses manajerial dimana tujuan-tujuan organisasi didiagnosa, ditemukan dan disetujui bersama oleh semua pihak dalam organisasi (atasan dan bawahan), dimana tujuan-tujuan organisasi tersebut spesifik, bisa diukur, berjangka waktu, dan digabungkan dalam sebuah action plan; perkembangan dan hasil yang dicapai diukur dan dimonitor dalam sebuah sesi penilaian yang mengacu kepada standar kinerja yang telah disepakati bersama sebelumnya.

Dari definisi diatas, menunjukkan bahwa MBO terhubung dengan proses-proses dalam pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan dan appraisal. Dan juga menekankan pada pengukuran, perencanaan dan kontrol eksternal yang sesuai dengan ilmu manajemen. Penekanan ini yang sedikit membedakan MBO yang dimaksud dengan yang diutarakan oleh Drucker dalam The Practice of Management.


Menurut Drucker, kebutuhan untuk mengukur kinerja adalah sebuah alat untuk mengontrol diri. Dalam perjalanannya dari sebuah konsep menjadi sebuah teknik, MBO lebih di diasosiasikan dengan Bottom-Line management. Apa yang diungkapkan oleh Drucker mengenai MBO bukanlah sebuah Bottom-Line management, kontrol yang dimaksudkan oleh Drucker tidak lebih dari sekedar kontrol diri. Banyak perusahaan yang mengadopsi MBO ini tetapi bukanlah seperti yang diungkapkan oleh Drucker, terutama masalah kontrol. Dasar dari kontrol diri yang diungkapkan oleh Drucker mengacu pada filosofi dari manajemen itu sendiri, yaitu bahwa yang dibutuhkan oleh sebuah bisnis adalah sebuah prinsip manajemen yang memberikan keleluasaan penuh kepada kekuatan individu dan tanggung jawab, dan pada saat yang bersamaan memberikan arahan visi dan bagaimana mencapainya yang berlaku umum, membangun sebuah teamwork dan menyelaraskan tujuan-tujuan individu dengan tujuan utama organisasi yang telah disepakati bersama sebelumnya. Prinsip satu-satunya yang bisa memenuhi semuanya itu adalah management by  objectives and self control. MBO dan Self Control membuat para manajer fokus akan satu sasaran, dan menggantikan kontrol luar kepada kontrol dari dalam yang lebih tepat dan efektif. MBO dan Self Control bisa disebut sebagai sebuah filosofi dari manajemen, yang mana mendasarkan pada sebuah analisa terhadapa kebutuhan-kebutuhan yang spesifik dari sekelompok manajemen dan rintangan-rintangan yang dihadapinya. Selain  itu juga mendasarkan pada sebuah konsep dari aksi, perilaku dan motivasi manusia. MBO dan Self Control memastikan bahwa setiap karyawan akan bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dan melibatkan diri secara total dalam pekerjaannya. Dari sanalah timbul sebuah kebebasan, kebebasan yang berlandaskan pada hukum. Dari sebuah filosofi manajemen, self control menjadi sebuah alat untuk meningkatkan efisiensi.

Sumber: Peter Drucker, The Essential Drucker, HarperCollins Publisher, 2001, hal. 3- 56.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar