Peter Ferdinand Drucker
(19 November 1909 – 11 November 2005)
The practice of management
Biography
Peter Drucker lahir di
Vienna, pada tahun 1909 dari keluarga kelas menengah yang berkecukupan.
Ayahnya, Adolph, adalah seorang pengacara international yang ternama, merupakan
salah seorang pencetus festival Salzburg. Drucker lulus dari sarjana pada tahun
1927 di Vienna, dan mendapatkan gelar LLD dari universitas di Frankfurt pada
tahun 1931“Manajemen, telah menjelaskan mengapa, untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, kita dapat mempekerjakan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang besar dalam jumlah banyak untuk melakukan suatu kerja yang produktif.”
Peter Drucker
Pandangan
umum mengatakan, bahwa filsafat itu sulit. Filsafat ituabstrak dan
bahasanya susah untuk dipahami. Di sisi lain ilmu manajemen adalah ilmu yang praktis.
Manajemen memikirkan tentang tindakan dan sibuk dengan penerapan di dalam
kehidupan nyata. Kedua bidang itu seolah tidak memiliki kaitan.
Manajemen itu praktis. Filsafat itu abstrak. Tidak ada jalan tengah di antara
keduanya. Benarkah pandangan seperti itu?
Peter
Drucker, seorang ahli bisnis dan professor di bidang manajemen terkemuka di
dunia, menolak pandangan itu. Baginya praktek dan ilmu manajemen
memiliki dimensi filosofis yang sangat mendalam. Manajemen tidak bisa
dilepaskan dari filsafat. Tanpa filsafat manajemen tidak memiliki fondasi
pengetahuan yang kuat. Tanpa manajemen filsafat akan berhenti menjadi
pengetahuan dan insight yang belum diterapkan ke dalam praktek. Tata
politik mengandaikan filsafat politik dan manajemen politik yang kokoh. Tata
bisnis mengandaikan filsafat bisnis-ekonomi dan manajemen bisnis yang juga kokoh.
Oleh karena itu kedua displin itu sebenarnya saling bertautan tanpa
pernah bisa dipisahkan.
Peter
Drucker lahir di Wina pada 1909. Ia sekolah di sana dan di Inggris. Ia meraih
gelar doktor dalam bidang hukum publik serta hukum internasional. Ia pernah
menjadi wartawan di Frankfurt, Jerman, dan bekerja sebagai ekonom di sebuah
bank internasional di London. Pada 1927 Drucker pindah ke Amerika Serikat. Ia
banyak menulis buku tentang manajemen, ekonomi, dan masyarakat. Buku-bukunya
dibaca oleh banyak orang dan diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Di samping
itu Drucker juga telah menulis Autobiografi, dua novel, dan beberapa kumpulan
esei. Ia menjadi kolumnis tetap di berbagai majalah dan jurnal internasional.
Latar
Belakang
Sebagai
suatu disiplin ilmiah, manajemen masih muda usianya. Praktek bisnis yang
dilakukan oleh perusahaan-perusahan dengan menggunakan modal raksasa juga sama.
VOC Belanda adalah perusahaan multinasional dengan modal besar yang kiranya
pertama kali muncul tercatat di dalam sejarah. Di Eropa pada masa yang sama,
perusahaan produsen Katun di Manchester milik Friedrich Engels adalah yang
terbesar. Jika anda ingat Engels adalah sahabat dekat Karl Marx. Selamat
bertahun-tahun Engels membantu Marx dalam urusan finansial. Mereka bahkan
pernah menulis buku bersama. Engels adalah seorang pengusaha katun. Di
perusahaannya tidak ada manajer, dalam arti seperti yang kita kenal sekarang
ini. (Drucker, 2001, 3) Yang ada adalah mandor, yang sebenarnya juga adalah
pekerja. Sang mandor menjaga efektivitas dan displin pekerjanya. Marx menyebut
kelompok pekerja saat itu sebagai “kelompok proletar”.
Dapat
juga dikatakan bahwa perusahaan katun milik Engels belumlah mengenal manajemen.
Yang mereka kenal adalah pembagian kerja, yang sebenarnya hanya merupakan satu
aspek kecil dari manajemen. Sekarang ini manajemen sebagai ilmu sudah
berkembang begitu pesat. Bahkan menurut Drucker, manajemen adalah salah satu
displin ilmu yang berkembang paling pesat dalam sejarah. (Drucker, 2001, 4)
Dalam waktu singkat yakni sekitar 150 tahun, manajemen sebagai displin telah
memberikan pengaruh yang begitu besar bagi peradaban manusia. Praktek
manajemen telah mengubah kegiatan penataan bisnis di negara-negara Barat.
“Praktek manajemen”, demikian Drucker, “telah menciptakan ekonomi global dan
membuat peraturan-peraturan baru untuk negara-negara yang hendak berpartisipasi
di dalam ekonomi sebagai orang-orang yang setara.” (Drucker, 2001) Orang yang
tidak memahami manajemen akan mengalami kegagapan menghadapi berbagai
perubahan dan tantangan yang muncul di abad ke-21 ini.
Tujuan
dasar dari manajemen adalah untuk membuat beragam orang bekerja sama untuk tujuan
yang sama, berpijak pada nilai-nilai yang sama, struktur kerja yang
sama, pelatihan yang sama, dan perkembangan bersama yang diarahkan untuk
menanggapi berbagai perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.
(Drucker, 2001, 5) Sampai sekarang tujuan itu masih sama. Namun yang berubah
sekarang adalah ukuran dan kualitas dari tata bisnis yang dilakukan.
Dulu manajemen hanya berfokus untuk mengatur sekumpulan orang yang tidak memiliki
keahlian apapun, dan hanya bekerja untuk tujuan-tujuan jangka pendek saja.
Sekarang dan akan terus berkembang di masa depan, manajemen digunakan untuk mengatur
orang-orang yang memiliki pendidikan dan keahlian yang tinggi. Mereka
mengabdi tidak hanya untuk memenuhi tujuan-tujuan jangka pendek, tetapi untuk masa
depan kebudayaan manusia dan memiliki pengaruh yang sangat luas ke
seluruh dunia. (Drucker, 2001)
Para
pemimpin dunia dan pemikir di bidang akademik mulai menyadari pentingnya
praktek dan analisis manajemen sejak awal perang dunia pertama. Namun jumlah
mereka masihlah sangat sedikit. Menurut Drucker sekarang ini sepertiga dari
penduduk dunia adalah mereka yang juga dikenal sebagai “para manajer yang
profesional” di bidangnya masing-masing. (Drucker, 2001, 5) Dalam arti ini para
manajer profesional tersebut juga menjadi agen perubahan yang signifikan, baik
dalam segi kualitas maupun kuantitas. “Manajemen”, demikian tulis Drucker,
“telah menjelaskan mengapa, untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, kita
dapat mempekerjakan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang
besar dalam jumlah banyak untuk melakukan suatu kerja yang produktif.”
(Drucker, 2001) Memang tidak ada masyarakat sebelumnya yang bisa melakukan hal
ini. Tidak hanya dulu pada awal abad kedua puluh, belum ada orang yang
sungguh-sungguh mengerti, bagaimana mengatur orang-orang yang memiliki
pengetahuan dan ketrampilan yang berbeda-beda untuk mewujudkan tujuan bersama.
Drucker
lebih jauh menulis, bahwa Cina telah maju lebih dahulu dalam hal manajemen,
jika dibandingkan dengan peradaban Barat. Kekaisaran Cina kuno mampu
menyediakan lapangan pekerjaan bagi semua orang, baik yang berpendidikan
ataupun tidak. Pada waktu itu tidak ada satupun negara Eropa yang mampu melakukan
hal yang sama. Sekarang ini menurut Drucker, Amerika Serikat memiliki jumlah
penduduk yang sama dengan Kekaisaran Cina Kuno dulu. Sekitar 1 juta mahasiswa
lulus dari perguruan tinggi setiap tahunnya. Hanya sedikit diantara
mereka yang mampu menemukan pekerjaan yang tepat dengan pendapatan yang juga
tepat. (Drucker, 2001, 5)
Sekarang
ini pengetahuan seorang ahli adalah pengetahuan yang sangat terspesialisasi.
Seorang bisa sangat memahami struktur tulang binatang tertentu, tetapi bisa
buta sama sekali terhadap bidang lainnya. Jika bekerja sendirian seorang ahli tidak
akan menghasilkan apapun. Dalam hal ini praktek manajemen memungkinkan beberapa
ahli yang memiliki pengetahuan berbeda untuk mencapai tujuan yang sama secara
produktif. Praktek bisnis modern mempekerjakan sepuluh ribu orang yang memiliki
pengetahuan dan keahlian yang beragam, serta mengarahkannya untuk mewujudkan
suatu tujuan secara produktif. Mereka adalah para ahli yang berasal dari
sekitar 60 displin ilmu yang berbeda, seperti para insinyur dengan
bidang-bidangnya masing-masing, desainer, ahli marketing, ahli ekonomi,
akuntan, ahli sumber daya manusia, dan sebagainya. Tanpa praktek manajemen yang
tepat, kecil kemungkinan para ahli tersebut mampu menghasilkan sesuatu yang
signifikan bagi kehidupan bersama. Dengan demikian praktek manajemen, yang
didasarkan pada teori yang tepat, dapat membuat beragam pengetahuan yang
berbeda, yang dimiliki juga oleh orang yang berbeda, menjadi efektif dan
produktif. “Berkembangnya praktek manajemen”, demikian Drucker, “telah mengubah
pengetahuan dari hanya ornamen sosial menjadi modal utama untuk ekonomi.”
(Drucker, 2001)
Menurut
Adam Smith setiap masyarakat membutuhkan waktu setidaknya seratus tahun untuk
menciptakan tradisi tumbuhnya pekerja ahli pada level teknis dan manajerial,
dan terciptanya masyarakat yang siap menjadi konsumen dari produk-produk
mereka. Akan tetapi realitasnya berbicaraberbeda. Pada waktu perang dunia
pertama meletus, banyak sekali pekerja yang tidak memiliki keahlian apapun
‘dipaksa’ untuk menjadi pekerja profesional di pabrik-pabrik nyaris dalam waktu
sekejap mata. Banyak perusahaan di Eropa menerapkan suatu paradigma ekonomi
baru, yakni mempekerjakan banyak orang dalam skala pekerjaan yang juga masif.
Para manajer pabrik besar melakukan analisis atas tipe-tipe pekerjaan yang
mungkin, dan membaginya ke dalam bagian-bagian kecil, sehingga teknik
yang dibutuhkan untuk memenuhi bagian kecil itu bisa dipelajari dalam
waktu singkat.
Misalnya
sebuah pabrik ingin memproduksi mobil. Tidak perlu ada sekelompok orang yang
membuat mobil. Mobil dibagi ke dalam bagian-bagian, seperti roda, kaca, badan
mobil, dan sebagainya. Roda pun dibagi lagi ke dalam bagian kecil-kecil,
seperti karetnya, mur, ataupun bagian cat. Bagian kecil-kecil tersebut dipegang
oleh beberapa orang. Mereka bisa mempelajari teknik membuat bagian yang
kecil-kecil tersebut dalam waktu singkat. Cara berpikir dan praktek manajemen
semacam ini juga dipraktekkan oleh Jepang beberapa waktu setelah perang dunia
pertama. Dua puluh tahun setelah perang dunia kedua berakhir, Korea Selatan
menerapkan cara yang sama. Akibatnya mereka memperoleh kemajuan industri dalam
waktu singkat, dan bisa merebut pasar di negara-negara lain.
Pada
dekade 1930-an beberapa ahli manajemen dari Harvard Business School,
seperti Thomas Watson, Robert E. Wood, Roebuck, an George Mayo, mulai mempertanyakan kembali
mekanisme produksi dan manajemen yang tengah berlangsung. Mereka pun
berpendapat bahwa cara berpikir dan praktek manajemen yang lama tersebut sudah tidak
lagi memadai. Walaupun produktif tetapi manajemen semacam itu tidak
fleksibel, menguras banyak modal, tidak memanfaatkan aspek sumber daya manusia
secara maksimal, dan memiliki pengaturan yang tidak tepat. Oleh karena itu
dibutuhkan suatu cara manajemen baru. Para ahli tersebut berpaling para sistem
manajemen berbasis pengetahuan (knowledge based management). “Setiap orang di
dalam sistem inovatif ini”, demikian Drucker, “akan menerapkan pengetahuan ke
dalam pekerjaan, sistem dan informasi akan menggantikan kerja tangan dan kerja
alat.” (Drucker, 2001, 7) Dalam arti ini mereka menggantikan semboyan “kerja
keras” menjadi “kerja cerdas”. (Drucker, 2001)
Jadi
kita sudah melihat lahirnya sebuah displin ilmiah dan praktek baru, yakni
praktek manajemen. Suatu teknik yang sebenarnya sudah lama berkembang di dalam
peradaban manusia, tetapi baru sungguh menjadi bagian dari pengetahuan pada
awal abad kedua puluh ini. Manajemen telah berubah paradigma, mulai dari
manajemen berbasis bagian-bagian kecil dengan skala masif menjadi manajemen
yang berbasis pada pengetahuan dalam bentuk informasi dan komunikasi
yang sistematis. Pertanyaan tetaplah sama apa sebenarnya yang dimaksudkan
sebagai manajemen ini? Apakah manajemen itu melulu terkait dengan teknik dan
tips-tips praktis untuk mengatur orang? Atau ada yang lain? Apa dimensi
filosofis dari manajemen?
Dimensi
Filosofis Manajemen
Menurut
Drucker manajemen memang meliputi suatu area disiplin ilmiah dan praktek yang
luas. Akan tetapi cara berpikir dan praktek manajemen memiliki beberapa prinsip
esensial yang bersifat filosofis. (Drucker, 2001, 10) Pertama, manajemen
adalah soal manusia. Fungsi utama manajemen adalah memungkinkan terjadinya
kerja sama, yakni untuk membuat kekuatan orang-orang yang berbeda menjadi
relevan, dan kelemahan mereka menjadi tidak relevan. Ini adalah alasan
dari keberadaan organisasi, apapun bentuknya. Dalam hal ini praktek manajemen
sangatlah penting. Misalnya ada orang yang memiliki kemampuan arsitektur yang
hebat. Akan tetapi ia tidak mampu melakukan penghitungan uang secara cermat. Ia
lemah dalam soal keuangan. Di dalam organisasi kelebihan orang itu, yakni dalam
hal menciptakan bagan arsitektur yang akurat, dapat dimanfaatkan semaksimal
mungkin untuk mendatangkan keuntungan. Sementara kelemahannya yakni
ketidakmampuannya menghitung uang secara cermat, bisa menjadi tidak relevan,
karena organisasi tersebut telah mempekerjakan orang yang bisa menghitung uang
secara cermat. Dalam hal ini kelemahan si arsitek menjadi tidak relevan.
Sementara kelebihannya menjadi sangat berguna.
Dewasa
ini semua orang praktis bekerja dalam suatu organisasi yang memiliki pola manajemen
tertentu, baik itu besar maupun kecil. “Kemampuan kita untuk berkontribusi di
dalam masyarakat”, demikian Drucker, “juga sangat tergantung dari sejauh mana
kemampuan, dedikasi, dan usaha kita dipergunakan oleh organisasi tempat kita
bekerja.” (Drucker, 2001, 11) Seorang ahli biokimia tidak akan bekerja secara
maksimal, jika ia bekerja sebagai penjual roti. Ia akan bekerja secara maksimal
pada tempat, di mana kemampuannya sungguh dihargai dan dapat digunakan sebaik
mungkin, seperti di perusahaan obat, atau di universitas misalnya. Di
perusahaan obat atau universitas, si ahli biokimia bisa memberikan kontribusi
yang signifikan bagi masyarakat sesuai dengan potensi yang ia miliki.
Kedua, karena
manajemen terkait dengan integrasi dari beragam orang untuk mencapai tujuan
yang sama, maka praktek tersebut berakar kuat di dalam kultur. Praktek
manajemen di manapun tempat dilakukannya, pada hakekatnya, adalah sama. Akan
tetapi pola penerapannyalah yang berbeda. Menurut Drucker salah satu tantangan
terbesar bagi para praktisi manajemen sekarang ini adalah menemukan pola
manajerial yang cocok dengan kultur tempat mereka hidup dan
berkembang. Pola itulah yang bisa dijadikan tititk tolak untuk melakukan
praktek manajemen secara tepat. (Drucker, 2001) Salah satu kunci sukses Jepang
meraih kemajuan pesat di bidang manajerial adalah kemampuan mereka menemukan
pola praktek manajemen yang sesuai dengan kultur yang mereka miliki. Pola
manajemen berbasis kultur inilah yang mendorong mereka mengembangkan berbagai
bidang kehidupan, baik ekonomi, politiks, sosial, dan budaya.
Ketiga, setiap
organisasi apapun bentuknya selalu membutuhkan komitmen tertentu pada tujuan
bersama (common goal), dan diikat oleh nilai-nilai bersama (common values).
“Sebuah perusahaan”, demikian Drucker, “haruslah memiliki tujuan yang jelas,
sederhana, dan menyatukan.” (Drucker, 2001, 12) Tanpa komitmen kepada tujuan
tersebut, tidak ada organisasi. Yang ada adalah gerombolan (mob). Tujuan
bersama tersebut juga haruslah jelas, bersifat publik, dan
secara konsistendiingatkan serta dipastikan kembali. Tugas utama
seorang manajer adalah untuk memikirkan secara mendalam, merumuskan, dan
mewujudkan tujuan serta nilai-nilai bersama tersebut.
Keempat, Drucker
lebih jauh menjelaskan bahwa praktisi manajemen haruslah mampu membawa
organisasi untuk berkembang dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Ia
harus mampu membaca situasi, dan memanfaatkan semua peluang yang mungkin
diraih. Dalam arti ini setiap organisasi adalah sebuah tempat, di mana aktivitas
belajar dan mengajar terjadi. Pelatihan dan pengembangan haruslah
dilakukan terus menerus di semua jenjang organisasi. (Drucker, 2001)
Kelima, setiap
organisasi selalu terdiri dari beragam orang dengan beragam pengetahuan dan
ketrampilan. Mereka melakukan pekerjaan yang berbeda-beda, sesuai dengan
kemampuannya. Semua aktivitas tersebut haruslah dilakukan atas dasar komunikasi
dan tanggung jawab individu yang kokoh. Dalam hal ini semua anggota
organisasi haruslah sungguh memahami tujuan dari aktivitas yang mereka lakukan.
Tujuan tersebut haruslah diresapi tidak hanya oleh pimpinan organisasi, tetapi
oleh seluruh anggotanya. Setiap anggota harus memahami dan meresapi tujuan
organisasi ini. Setiap anggota juga harus memikirkan apa kaitan aktivitas
mereka dengan aktivitas anggota lainnya, dan memastikan bahwa anggota lain juga
melakukan hal yang sama, yakni mempertimbangkan kepentingan anggota lainnya.
Dengan demikian ontologi dari praktek manajemen adalah komunikasi dan
tanggung jawab individual yang saling terkait satu sama lain tanpa bisa
terlepaskan. (Drucker, 2001, 12)
Keenam, bagaimana
menilai kemajuan suatu organisasi? Kriteria apa yang dapat kita gunakan untuk
melakukan itu? Memang produktivitas, luasnya pasar, status finansial, dan
pengembangan sumber daya manusia sangatlah penting bagi keberlangsungan suatu
organisasi. Akan tetapi menurut Drucker, sama seperti penilaian atas kesehatan
dan perkembangan manusia tidak bisa hanya dibuat dengan satu kriteria, begitu
pula penilaian atas kinerja organisasi tidak bisa dibuat hanya dengan satu
kriteria. Kriteria yang ada haruslah beragam dan terus berkembang sesuai
dengan perubahan situasi. (Drucker, 2001)
Dan ketujuh, daya
guna dan hasil suatu organisasi terletak di luar organisasi itu
sendiri. “Hasil dari praktek bisnis”, demikian Drucker, “adalah konsumen yang
puas.” (Drucker, 2001, 12) Misalnya daya guna dari rumah sakit adalah pasien
yang telah sembuh. Daya guna dari sekolah adalah murid yang telah mempelajari
sesuatu, dan menggunakannya untuk bekerja sepuluh tahun kemudian. Itu semua
adalah hasil dan daya guna dari suatu organisasi. Semua itu bisa ditemukan di
luar organisasi. Di dalam organisasi yang ada hanyalah biaya dan
pengeluaran. Inilah prinsip dasar dan alasan keberadaan dari sebuah manajemen
organisasi.
Manajemen
yang Filosofis
Praktek
manajemen berurusan dengan tindakan dan aplikasi. Ujian terhadap berhasil
tidaknya praktek manajemen adalah hasilnya. Akan tetapi hasil itu tidak melulu
terkait dengan uang (economic performance), tetapi juga dengan manusia,
nilai-nilainya, dan perkembangannya. Inilah yang membuat manajemen terkait erat
dengan kemanusiaan. Bahkan bisa juga dibilang, dimensi filosofis
terdalam dari manajemen adalah sisi kemanusiaannya. Manajemen terkait erat juga
dengan struktur sosial dari komunitas, di mana praktek manajemen tersebut
dilaksanakan. Berbicara melalui pengalaman bertahun-tahun bekerja sama dengan
para praktisi manajemen, Drucker berpendapat, bahwa manajemen sangatlah terkait
dengan moralitas. Moralitas yang juga selalu terkait dengan hakekat dari
manusia itu sendiri, sisi baik maupun sisi buruknya. (Drucker, 2001, 13)
Drucker
bahkan menyebut manajemen sebagai bagian dari liberal art, atau seni
liberal. Disebut liberal karena manajemen terkait dengan pengetahuan,baik
tentang diri maupun tentang dunia, kebijaksanaan, dan kepemimpinan. Disebut
sebagai seni karena manajemen terkait erat dengan tindakan dan penerapan
praktis.
“Setiap
manajer”, demikian tulis Drucker, “mengambil semua pengetahuan dan inspirasi
dari ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi, filsafat,
ekonomi, sejarah, dan etika, dan juga dari ilmu-ilmu alam. Akan tetapi, para
manajer membuat semua pengetahuan ini menjadi fokus dan menghasilkan hasil yang
efektif, seperti menyembuhkan orang sakit, mengajar siswa, membangun
jembatan,…” (Drucker, 2001)
Dengan
alasan-alasan yang telah dikemukanan di atas, manajemen adalah suatu praktek
yang berfokus pada kemanusiaan. Tujuan utama manajemen adalah supaya kemanusiaan
diakui dan dijadikan prinsip utama. Tanpa aspek kemanusiaan manajemen hanyalah
alat untuk membenarkan penindasan, atau selubung yang menutupi ketidakadilan.
Perumusan
Lebih Jauh
Pada
titik ini saya rasa kita bisa mulai merumuskan dimensi-dimensi filosofis dari
praktek manajemen, seperti pengandaian antropologis, sosiologis, ontologis,
epistemologis, dan aksiologisnya. Pengandaian antropologis adalah paham
tentang manusia yang menjadi dasar dari praktek manajemen. Pengandaian ini
terkait dengan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, yakni siapa itu manusia
dalam praktek manajemen? Dalam praktek manajemen manusia dipahami sebagaimanusia
yang memiliki beragam ketrampilan bergabung bersama untuk mewujudkan suatu
tujuan. Seperti sudah disinggung sebelumnya, manajemen memungkinan berbagai
orang dengan beragam ketrampilan dan ilmu bergabung bersama untuk mewujudkan
suatu tujuan tertentu secara efektif. Seorang ahli nuklir tidak akan bermakna
bagi kehidupan bersama, jika ia hanya sendiri. Ia baru sungguh bermakna, jika
ia tergabung dalam suatu tim yang terdiri dari beragam orang dan beragam
ketrampilan untuk mewujudkan suatu tujuan tertentu, yang terkait dengan energi
nuklir. Mereka bisa secara bersama membangun pembangkit listrik, atau apapun.
Di
sisi lain Pengandaian sosiologis adalah situasi, kondisi, atau tipe
masyarakat yang memungkinkan praktek manajemen berlangsung. Tanpa
pengandaian sosiologis yang tepat, praktek manajemen juga tidak akan bermakna. Pengandaian
sosiologis dari praktek manajemen terkait dengan fakta, bahwa praktek tersebut
selalu berakar kuat pada kultur. Warna manajemen sebuah organisasi biasanya
mencerminkan kultur tertentu yang melatarbelakanginya. Dalam arti ini maka
praktek manajemen haruslah berangkat dan berkembang di dalam kultur sosiologis
suatu masyarakat. Jika tidak begitu praktek manajemen akan terasa asing, dan
justru membuat orang terasing dari kultur yang membuat hidupnya bermakna.
Pola
manajemen di Eropa Barat dan di Cina berbeda, karena keduanya berangkat dari
kultur yang juga berbeda. Jika kita mengatur sebuah organisasi yang berasal
dari Cina dengan tata kelola gaya Eropa Barat, maka pengaturan tersebut tidak
akan bermakna. Orang-orang Cina yang kita pimpin bisa menanggapi itu sebagai
suatu penindasan. Tata kelola atau praktek manajemen tidak akan berjalan.
Dengan demikian pengandaian sosiologis dari pratek manajemen adalah kultur, di
mana praktek tersebut lahir dan berkembang.
Pengandaian
ontologis dari praktek manajemen adalah hakekat dari praktek
manajemen. Hakekat itu merupakan “ada”-nya dari manajemen. Inilah esensi dari
praktek manajemen. Tanpa hakekat ini praktek manajemen menjadi tidak bermakna.
Ontologi dari manajemen adalahjaringan komunikasi intensif antar individu yang
memiliki perbedaan keterampilan dan ilmu, namun bekerja untuk mewujudkan tujuan
yang sama.Jadi ontologi dari praktek manajemen adalah jaringan komunikasi yang
saling bertautan satu sama lain. Jaringan komunikasi itu tidak anonim,
melainkan tertata dan mengarah pada tujuan yang jelas. Jaringan komunikasi itu
juga mengandaikan adanya tanggung jawab masing-masing individu untuk berkomitmen pada
tugas dan tujuan yang ada. Seperti yang juga diingatkan oleh Drucker, tujuan
bersama tersebut haruslah terus diingatkan dan dipastikan kembali. Tujuan itu
haruslah menjadi bagian dari identitas dan cita-cita bersama. Tanpa itu
organisasi tidak lebih dari sebuah gerombolan.
Bagaimana
pengandaian ontologis tersebut dapat diketahui? Jawaban atas pertanyaan ini
membawa kita pada pengandaian epistemologis dari praktek manajemen. Fakta bahwa
manajemen merupakan suatu jaringan komunikasi terarah pada tujuan tertentu
dapatlah langsung diuji secara empiris maupun analitis. Keluarga, dalam arti
keluarga inti ataupun klan, merupakan bentuk organisasi tertua. Bentuk itu
berkembang menjadi masyarakat, kota, negara, dan kini berkembang menjadi
perusahaan-perusahaan bisnis. Penelitian empiris atas berbagai tipe masyarakat
menunjukkan pola yang kurang lebih serupa, walaupun memang karaktek hakikinya
berbeda-beda. Dengan demikian ontologi manajemen, yakni sebagai jaringan
komunikasi intensif antar individu yang memiliki beragam ketrampilan berbeda
namun mengabdi pada tujuan yang sama, dapatlah diuji secara inderawi melalui
pengalaman langsung. Epistemologi dari praktek manajemen adalah pengalaman
empiris dan historisitas manusia.
Konsep
manajemen sebagai jaringan komunikasi intensif antar beragam individu tersebut
juga bisa diuji secara analitis. Konsep jaringan komunikasi sudah ada di
dalam konsep manajemen. Manajemen adalah komunikasi, sekaligus lebih dari
itu, yakni komunikasi intensif untuk mewujukan suatu tujuan tertentu secara
efektif. Definisi ini tidak perlu melulu diuji melalui pengalaman, tetapi dapat
dipahami secara analitis dengan akal budi. Seperti pengetahuan bahwa anak dari
paman saya adalah sepupu saya, begitu pula konsep manajemen dapat dipahami
secara analitis sebagai jaringan komunikasi intensif antar beragam inividu yang
mengabdi pada tujuan bersama. Pengetahuan ini bisa diuji secara empiris,
historis, maupun analitis.
Aksiologi
adalah cabang dari filsafat yang mempelajari tentang hakekat nilai. Aksiologi
mau memahami arti nilai secara umum, dan bukan hanya nilai moral saja.
Aksiologi mau mengakui fakta, bahwa banyak nilai yang berkembang di dalam
masyarakat, dan nilai tersebut saling berbeda dan bahkan bertentangan satu sama
lain. Di dalam praktek manajemen, pada hemat saya, ada lima nilai yang kiranya
menjadi titik tolak, yakni nilaipengabdian, kemanusiaan, ekonomi, lingkungan
hidup, dan estetika. Seperti sudah disinggung sebelumnya, tujuan utama
dari sebuah organisasi terletak di luar organisasi tersebut. Dan itu adalah
sebentuk pengabdian pada masyarakat yang lebih luas. Di dalam organisasi yang
ada adalah pengeluaran. Sementara di hadapan masyarakat luas, organisasi bisa
memberikan sumbangan yang besar.
Organisasi
juga berhadapan dengan manusia yang memiliki daging, darah, dan historisitas
masing-masing. Dan mereka itu bukan hanya pekerja, tetapi juga manusia yang
memiliki harkat dan martabat. Dalam hal iniprinsip kemanusiaan menjadi
pemandu semua kegiatan berorganisasi. Manusia haruslah dipandang sebagai tujuan
pada dirinya sendiri, dan bukan alat untuk tujuan-tujuan lainnya. Setiap
pimpinan suatu organisasi, apapun bentuknya, haruslah mampu melawan cara
berpikir rasionalitas instrumental strategis yang banyak terjadi sekarang ini.
Inilah cara berpikir yang mau menjadikan manusia sebagai alat untuk
tujuan-tujuan lain di luar manusia itu sendiri.
Tentu
saja organisasi tentu butuh uang untuk mempertahankan eksistensinya. Dalam hal
ini nilai ekonomis juga sangat perlu untuk menjadi perhatian. Praktek
organisasi bisnis yang tidak menjadikan nilai ekonomi sebagai tolok ukur adalah
praktek yang absurd. Bahkan meminjam metafor yang digunakan oleh Drucker, jika
seorang malaikat agung yang tidak memiliki kepentingan pribadi memimpin sebuah
perusahaan, maka sama seperti para pelaku bisnis lainnya, ia harus menjadikan
nilai ekonomi sebagai salah satu tolok ukur kerjanya. Jika tidak organisasinya
bisa hancur. Runtuhnya suatu organisasi berarti hilangnya salah satu peran
sosial yang bisa memberikan kontribusi besar bagi kehidupan masyarakat.
Sekarang
ini lingkungan ekosistem manusia sedang terancam musnah. Banyak binatang yang
sudah punah. Hutan dibabati. Cuaca semakin panas karena lapisan atmosfer yang
melindungi manusia dari radiasi matahari sudah berkurang. Efek rumah kaca pun
menambah parah keadaan. Dalam hal ini jelaslah, bahwa praktek manajemen
organisasi harus memberikan perhatian pada kelangsungan ekosistem. Nilai
pelestarian ekosistem haruslah menjadi salah satu pertimbangan utama di dalam
praktek-praktek organisasi. Jika nilai ini tidak diperhatikan, maka ekosistem
akan terancam musnah. Jika ekosistem rusak yang musnah tidak hanya
organisasi-organisasi terkait, tetapi juga masyarakat sebagai keseluruhan.
Nilai
terakhir dari praktek manajemen yang menjadi pengandaian aksiologisnya adalah nilai
estetika. Seperti ditulis oleh Drucker, manajemen adalah suatu seni. Oleh
karena itu manajemen haruslah memperhatikanaspek estetik dari semua
kegiatannya, mulai dari produksi, distribusi, marketing, sampai pengelolaan
sumber daya manusia. Itu semua adalah praktek-pratek yang memerlukan kepekaan
seni yang bersifat intuitif, dan bukan hanya kalkulasi strategis rasional.
Jika praktek manajemen di dalam organisasi mengabaikan aspek estetik, maka
organisasi itu tidak lebih dari sekedar organisasi para robot. Robot tidak
memiliki kepekaaan intuitif dan estetik. Oleh karena itu robot tidak bisa
kreatif dan menciptakan inovasi. Perlahan tapi pasti organisasi itu akan
hancur.
Dari
uraian ini kita dapat menyimpulkan bahwa praktek manajemen sangatlah
terkait dengan filsafat. Tanpa filsafat praktek manajemen adalah praktek
para robot yang pucat, miskin inovasi, dan miskin kreatifitas. Mungkin yang
banyak terjadi sekarang ini, para pimpinan organisasi kita, apapun bentuknya,
mulai menjadi pimpinan para robot-robot. Mereka merasa diri mereka sebagai
robot, memandang anak buahnya sebagai robot, dan bekerja juga secara mekanis
seperti robot. Jika praktek seperti itu terus dilakukan, maka mereka akan
ketinggalan jaman. Mereka kehilangan kemampuan kompetitif. Sudah saatnya para
filsuf menengok ke dunia bisnis dan manajemen. Kita perlu lebih banyak “Peter
Drucker-Peter Drucker” lainnya, tentu saja yang sungguh memahami kondisi
Indonesia.
Pada
saat Nazi berkuasa di Jerman pada sekitar tahun 1933, Drucker di tawari untuk
bekerja di Kementrian Informasi sebagai jurnalis dan dosen. Drucker adalah
seseorang yang berpandangan politik konservatif, katolik, seorang yang
mendukung ide pemerintahan yang konstitusional dan berlandaskan hukum. Oleh
karena itu dia kurang bersimpati kepada rezim Nazi dan menjawab tawaran
tersebut dengan menuliskan sebuah monograph – Friedrich Julius Stahl,
Conservative Poitical Theory and Historical Change- sebuah tulisan yang merupakan
kritik terselubung dan oleh penguasa pada saat itu dianggap tidak dapat dibenarkan
dan selayaknya dilarang.
Merasa
terancam keselamatannya, walaupun Drucker berpassport Austria, dia meninggalkan
Jerman menuju London pada Apri 1933 dan bekerja pada sebuah bank sekaligus
aktif menulis artikel untuk beberapa koran di Inggris. Diapun memulai studinya
tentang kebangkitan Nazi dan yang pada akhirnya melahirkan buku pertamanya yang
dipublikasikan di Inggris yaitu The End of Economic Man: The Origins of
Totalitarianism. Pada tahun 1937 dia meninggalkan Inggris menuju Amerika dan memantapkan
dirinya sebagai seorang konsultan dan dosen di Sarah Lawrence College, Bronxville,
New York dan kemudian juga di Bennington College in Vermont untuk mata kuliah
filsafat, pemerintahan dan agama. Pada saat dia mengajar di Bennington pada
tahun 1942 (sampai dengan tahun 1950) dia mempublikasikan The Future of
Industrial Man, dan kemudian dinobatkan menjadi guru besar dibidang manajemen
di New York University. Pada tahun 1971 Drucker menjadi Clarke Professor of
Social Science and Management di Claremont Graduate School in Claremont, California.
Di tahun 1994 Drucker menjadi Godkin Lecturer di Harvard University.
Dalam
publikasinya The Future of Industrial Man, Drucker memprediksikan bahwa Hitler
akan kalah. Dia juga berspekulasi tentang situasi setelah perang dunia bahwa
perusahaan dagang (business enterprise) akan menjadi institusi yang berperan
penting dalam dunia industri, yang mana prinsip dan fungsi kekuasan dan status
individu harus diwujudkan. Hal ini menarik perhatian dari Paul Garrett, Vice
Chairman dari General Motors dan mengundang Drucker untuk melakukan sebuah
studi mengenai kebijakan dan sturktur perusahaan di GM. Tentu saja penawaran
ini merupakan kesempatan yang berharga bagi Drucker untuk dapat mempelajari
sebuah perusahaan yang besar dari dalam dan merupakan poin tersendiri bagi
karirnya sebagai seorang konsultan manajemen.
Salah
satu hasil studinya yang utama di GM adalah The Concept of the Corporation.
Dalam buku tersebut Drucker mengidentifikasikan kesuksesan sebuah korporasi
dengan beberapa karakter manajerial tertentu, pendelegasian dan penetapan
tujuan perusahaan yang jelas dan karakterkarakter structural tertentu seperti
desentralisasi. Dalam bukunya Drucker juga menganalisa pentingnya marketing
(dimana pada saat itu marketing adalah sebuah fungsi yang dihiraukan oeh semua
kalangan) dan keseimbangan yang “lembut” antara strategi jangka panjang dan
kinerja jangka pendek. Drucker merupakan seorang penulis yang produktif , beberapa
tulisan besarnya adalah The Age of Discontinuity (1969), Management: Task,
Responsibilities, Practices (1974), Managing in Turbulent Times (1980) and
Post-Capitalist Society (1993). Mahakarya Drucker, The Practice of Management,
berisikan ide-idenya yang sangat berpengaruh tentang management by objectives
and self-control.
The
practice of management
Buku
ini di publikasikan pada tahun 1954. Dalam buku tersebut, Drucker memutuskan
untuk menghindari pakem akademik yang lazim digunakan, misalnya penyebutan
seseorang atau pencantuman referensi, tetapi ada seorang ekonom yang menurutnya
sangat berjasa yaitu Joseph Schumpeter. Kembali pada tahun 1983, pada saat
perayaan seratus tahun kelahiran Joseph Schumpeter, Drucker mengungkapkan bahwa
pemikiranpemikiran Schumpeter akan terus berguna sampai dengan beberapa puluh tahun
kedepan. Kontribusi besar Schumpeter pada ekonomi adalah teorinya tentang
Business Cycles (1939). Sama seperti Drucker, Schumpeter adalah seorang
berkebangsaan Austria yang mengadu nasib ke Amerika pada tahun 1932 dan menjadi
staf pengajar yang berpengaruh di Harvard University. Bukunya yang terkenal
adalah Capitalism, Socialism and Democracy (1942). Drucker melihat bahwa
masyarakat dan bisnis mempunyai siklus yang sama yaitu penciptaan (creation),
pertumbuhan (growth), stagnasi (stagnation) dan penurunan (decline). Salah satu
inovasi adalah menghindari fase stagnasi dan penurunan. Untuk bisa
menghindarinya dibutuhkan kemampuan untuk menampilkan terobosan inovatif
misalnya menemukan sebuah produk baru atau yang lebih baik, menciptakan
pelanggan baru atau penggunaan baru dari sebuah barang lama, dan membuat,
menentukan harga dan pendistribusian produk atau jasa dengan cara yang lebih
kompetitif. Dalam bibliografi buku yang
sama, Drucker memasukan karya Chester Barnard, Henri Fayol, Mary Parker
Follett, F.W. Taylor, Lyndall Urwick dan Elton Mayo.
Menurut
Mayo berdasarkan eksperimen Hawthorne, para manajer industri yang akan datang
akan memilki peran yang penting dalam mempertahankan keseimbangan sosial. Lebih
lanjut James Burnham (NYU) dalam bukunya The Managerial Revolution (1941/1962)
memprediksikan bahwa para manager akan menjadi elit yang mengatur dalam
masyarakat modern. Atas kedua pandangan tersebut, Drucker mencoba untuk memperluas
dan menyempurnakan tentang peranan para manajer dan manajemen dalam masyarakat.
Manajer adalah element yang sentral (dynamic, life giving) dalam setiap bisnis.
Tanpa kepemimpinannya, sumber daya produksi yang ada akan tetap hanya menjadi
sumber daya tidak akan pernah menjadi sebuah proses produksi. Dalam kondisi
ekonomi yang sangat kompetitif, kualitas dan kinerja para manajer menentukan
kesuksesan sebuah bisnis dan pastinya menentukan keberlangsungan hidup dari
bisnis tersebut. Kualitas dan kinerja dari para manajer adalah satu-satunya keunggulan
yang bisa diharapkan dalam kondisi ekonomi seperti itu. Manajemen juga
merupakan sebuah kelompok yang penting dalam masyarakat industri. Kemunculan
manajemen sebagai institusi yang vital juga merupakan sebuah even yang penting
dalam sejarah sosial. Jarang sekali atau bahkan tidak pernah ada sebuah
institusi dasar baru (new basic institution) yang tumbuh secepat itu
(manajemen) dalam sejarah umat manusia. Manajemen datang, tumbuh dan
mendapatkan dukungan absolute (sedikit yang menentang, sedikit yang mengganggu,
tidak ada kontroversi) dari semua kalangan. Institusi ini diprediksi akan terus
ada sampai selama kebudayaan barat ada. Manajemen tidak hanya menjadi dasar
dari sistem industri moderen dan kebutuhan dari perusahaan bisnis modern, tapi
juga mengekspresikan kepercayaan dasar dari masyarakat barat moderen. Yaitu sebuah
kepercayaan bahwa kehidupan umat manusia dapat dikontrol melalui sebuah
pengorganisasian yang sistematik dari sumber daya - sumber daya ekonomi. Sebuah
kepercayaan bahwa perubahan ekonomi dapat dibuat menjadi sebuah mesin yang
sangat tangguh untuk perbaikan umat manusia dan keadilan sosial.
Drucker
menekankan bahwa untuk menuju kesuksesan, manajer harus dapat menentukan tujuan
dengan baik dan memonitor hasilnya dengan akurat. Ada delapan area penting yang
dapat dijadikan dasar yaitu:
- Kedudukan / posisi di pasar (Market Standing)
- Inovasi (Innovation)
- Produktivitas (Productivity)
- Sumber daya fisik dan finansial (Physical and Financia resources)
- Kemampuan untuk menghasilkan (Profitability)6
- Kinerja dan perkembangan manajer (Manager performance and develoment)
- Kinerja dan sikap pekerja (Worker performance and attitude)
- Tanggung Jawab publik / sosial (Public or Social Responsibility)
Semua
pekerjaan harus diarahkkan menuju tujuan perusahaan, para manajer harus fokus
untuk mensukseskan tujuan perusahaan. Jika tidak terpenuhi berarti mereka salah arah, telah
menyia-yiakan tenaga. Bukan sebuah teamwork yang dihasilkan tetapi malahan
gesekan-gesekan, rasa frustasi dan konflik. Drucker menggunakan istilah
Management by Objectives sebagai resep untuk merealisasikan ideanya tersebut.
Management
by objectives and self-control
Menurut
Morgan istilah Management by Objectives sudah ada sejak jaman Fayol yaitu
penekanan pada 5 elemen penting, Planning, Organization, Command, Coordination
and Control. Dan memang Drucker mengakui bahwa istilah tersebut bukan ditemukan
olehnya. Dia mengatakan bahwa Alfred Sloan sudah menggunakan istilah tersebut
pada tahun 1950an, hanya saja Drucker memposisikan MBO dalam posisi sentral
sedangkan menurut Sloan MBO hanya merupakan efek samping. Menurut Drucker, seringkali
di perusahaan besar yang dilandasi oleh birokrasi terjadi kecenderungan
bergesernya managerial goal. Dalam perusahaan bisnis, para manajer tidak secara
otomatis diarahkan pada tujuan dari perusahaan. Secara alamiah, bisnis
mengandung tiga faktor yang sangat kuat untuk terjadinya ”salah arah”: in the
specialized work of most managers, in the hierarchical structure of management,
and in the differences in vision and work and the resultant insulation of
various levels of management. MBO dimunculkan untuk menciptakan proses
terciptanya identifikasi tujuan bersama-sama (mutually) antara atasan dan
bawahan dalam sebuah organisasi; untuk dapat mengidentifikasi tanggung-jawab
para manajer yang bersangkutan dalam kaitannya dengan hasil yang akan
dicapainya; sebagai acuan dalam operasional setiap departemen atau unit dan
untuk mengukur kontribusi setiap subordinate. Menurut Tarrant MBO mengarahkan fokus
sebuah organisasi ke tujuan yang ingin dicapai, ke tujuan suatu aktivitas
daripada hanya sekedar proses aktivitas itu sendiri. Jadi bukan menanyakan apa
yang sedang saya kerjakan tetapi apa yang ingin saya capai dengan melakukan
ini. Yang penting bukan seberapa mengerti seorang teknisi akan sebuah mesin, atau
berapa kali dilakukan meeting atau seberapa sering menghubungi pelanggan,
tetapi lebih kepada sampai seberapa besar aktivitas-aktivitasnya berkontribusi
pada tujuan utama perusahaan. Walaupun dalam bukunya, Drucker hanya menjelaskan
garis besar dari MBO, tetapi ide ini merupakan salah satu teknik manajemen yang
paling mendominasi pada abad 20. Hal ini dijelaskan oleh Pinder bahwa MBO
merupakan salah satu teknik manajerial untuk memotivasi dan memberikan
penghargaan kepada karyawan, yang paling banyak diadopsi oleh perusahaan di
barat sejak akhir tahun 50an. MBO sangat populer dan banyak di adopsi oleh
bisnis modern dan organisasi pemerintahan. Tidak ditemukan definisi tentang
MBO, tetapi McConkie mencoba untuk mendefinisikannya sebagai berikut: MBO
adalah sebuah proses manajerial dimana tujuan-tujuan organisasi didiagnosa, ditemukan
dan disetujui bersama oleh semua pihak dalam organisasi (atasan dan bawahan),
dimana tujuan-tujuan organisasi tersebut spesifik, bisa diukur, berjangka
waktu, dan digabungkan dalam sebuah action plan; perkembangan dan hasil yang
dicapai diukur dan dimonitor dalam sebuah sesi penilaian yang mengacu kepada
standar kinerja yang telah disepakati bersama sebelumnya.
Dari
definisi diatas, menunjukkan bahwa MBO terhubung dengan proses-proses dalam
pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan dan appraisal. Dan juga menekankan pada
pengukuran, perencanaan dan kontrol eksternal yang sesuai dengan ilmu
manajemen. Penekanan ini yang sedikit membedakan MBO yang dimaksud dengan yang
diutarakan oleh Drucker dalam The Practice of Management.
Menurut
Drucker, kebutuhan untuk mengukur kinerja adalah sebuah alat untuk mengontrol
diri. Dalam perjalanannya dari sebuah konsep menjadi sebuah teknik, MBO lebih
di diasosiasikan dengan Bottom-Line management. Apa yang diungkapkan oleh
Drucker mengenai MBO bukanlah sebuah Bottom-Line management, kontrol yang
dimaksudkan oleh Drucker tidak lebih dari sekedar kontrol diri. Banyak
perusahaan yang mengadopsi MBO ini tetapi bukanlah seperti yang diungkapkan
oleh Drucker, terutama masalah kontrol. Dasar dari kontrol diri yang diungkapkan
oleh Drucker mengacu pada filosofi dari manajemen itu sendiri, yaitu bahwa yang
dibutuhkan oleh sebuah bisnis adalah sebuah prinsip manajemen yang memberikan
keleluasaan penuh kepada kekuatan individu dan tanggung jawab, dan pada saat
yang bersamaan memberikan arahan visi dan bagaimana mencapainya yang berlaku
umum, membangun sebuah teamwork dan menyelaraskan tujuan-tujuan individu dengan
tujuan utama organisasi yang telah disepakati bersama sebelumnya. Prinsip satu-satunya
yang bisa memenuhi semuanya itu adalah management by objectives and self control. MBO dan Self
Control membuat para manajer fokus akan satu sasaran, dan menggantikan kontrol
luar kepada kontrol dari dalam yang lebih tepat dan efektif. MBO dan Self
Control bisa disebut sebagai sebuah filosofi dari manajemen, yang mana
mendasarkan pada sebuah analisa terhadapa kebutuhan-kebutuhan yang spesifik
dari sekelompok manajemen dan rintangan-rintangan yang dihadapinya. Selain itu juga mendasarkan pada sebuah konsep dari
aksi, perilaku dan motivasi manusia. MBO dan Self Control memastikan bahwa
setiap karyawan akan bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dan melibatkan
diri secara total dalam pekerjaannya. Dari sanalah timbul sebuah kebebasan,
kebebasan yang berlandaskan pada hukum. Dari sebuah filosofi manajemen, self
control menjadi sebuah alat untuk meningkatkan efisiensi.
Sumber: Peter Drucker, The Essential Drucker, HarperCollins Publisher, 2001, hal. 3- 56.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar